Air merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Tidak semua daerah memiliki sumber air yang baik. Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di muara sungai atau di tengah lautan lepas merupakan daerah yang sangat miskin dengan air bersih sehingga timbul masalah pemenuhan kebutuhan air bersih terutama pada musim kemarau panjang. Untuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan air bersih tersebut diperlukan penerapan teknologi pengolahan air yang sesuai dengan kondisi sumber air baku, kondisi sosial budaya, ekonomi, dan SDM masyarakat setempat. Berikut beberapa prinsip pengolahan air meliputi:

1. Teknologi Membran
  •   Mikrofiltrasi
  •   Ultrafiltrasi
  •   Nanofiltrasi
  •   Reverse Osmosis
2. Pertukaran Ion
  •   Softening
  •   Deionisasi
3. Adsorpsi Karbón Aktif

4. Destilasi
  
Teknologi Membran

Teknik pemisahan dengan membran umumnya berdasarkan ukuran partikel dan berat molekul. Teknologi membran memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan proses lain yaitu, pemisahan dapat dilakukan secara kontinu, konsumsi energi umumnya relatif lebih rendah, proses membran dapat digabungkan dengan proses pemisahan lainnya (hybrid processing), pemisahan dapat dilakukan dalam kondisi yang mudah diciptakan. Berikut jenis-jenis proses pemisahan dengan membran:

A. Mikrofiltrasi (MF)

Mikrofiltrasi merupakan pemisahan partikel berukuran mikron atau semimikron. Membran mikrofiltrasi berukuran 0.1-1.0 mikron. Bentuknya lazim berupa cartridge gunanya untuk menghilangkan partikel dari air yang berukuran 0.04-100 mikron, asalkan kandungan total padatan terlarut tidak melebihi 100 ppm. Filtrasi cartridge merupakan filtrasi mutlak, artinya partikel padat akan tertahan, terkadang cartridge yang berbentuk silinder itu dapat dibersihkan. Cartridge tersebut diletakkan dalam wadah tertentu (housing). Bahan cartridge beragam diantaranya berasal dari katun, wool, rayon, selulosa, fiberglass, polipropilena, akrilik, nilon, asbes, ester-ester selulosa, serta polimer hidrokarbon terfluorinasi. Gambar 1 menunjukkan proses filtrasi pada membran mikrofiltrasi.
mikrofiltrasi
Gambar 1 Proses Filtrasi pada Membran Mikrofiltrasi
Keuntungan mikrofiltrasi diantaranya mampu menghilangkan semua partikel dan mikroorganisme yang lebih besar dari ukuran pori, dan perawatan yang dibutuhkan minimal. Sementara kerugiannya tidak mampu menghilangkan senyawa anorganik terlarut, senyawa kimia, pirogen, dan semua koloid. Selain itu mikrofiltrasi tidak dapat diregenerasi. Mikrofiltrasi tidak berbeda secara fundamental dengan reverse osmosis, ultrafiltrasi ataupun nanofiltrasi kecuali dalam hal ukuran partikel yang dihilangkannya.

B. Ultrafiltrasi (UF)

Membran ultrafiltrasi adalah teknik pemisahan dengan menggunakan membran untuk menghilangkan zat terlarut dengan bobot molekul (BM) tinggi, aneka koloid, mikroba sampai padatan tersuspensi dari air lautan. Membran semipermeabel dipakai untuk memisahkan makromolekul dari larutan. Proses pemisahan menggunakan membran ultrafiltrasi biasanya digunakan di bidang industri dan penelitian untuk penjernihan air karena ukuran yang dapat diolah adalah air pekat yang mengandung makromolekul yang memiliki berat atom sekitar 103-106 Da (1 Da = 0,000714 gram). Pengolahan menggunakan ultrafiltrasi pada umumnya menggunakan membran berukuran 0.001 mikron – 0.01 mikron. Dalam teknologi pemurnian air, membran ultrafiltrasi dengan BM membran 1000-20000 lazim untuk penghilangan pirogen, sedangkan BM membran 80000-100000 untuk penghilangan koloid. Pirogen dengan BM 10000-20000 terkadang dapat dipisahkan dengan membran 80000 karena adanya membran dinamis. Tekanan sistem ultrafiltrasi biasanya rendah 10-100 psi (70-700 kPa) maka dapat menggunakan pompa sentrifugal biasa. Membran UF sehubungan dengan pemurnian air dipergunakan untuk menghilangkan koloid (penyebab fouling), mikroba, pirogen, dan partikel modul higienis.
Membran ultrafiltrasi dibuat dengan mencetak membran selulosa asetat (SA) sebagai lembaran tipis. Membran selulosa asetat mempunyai sifat pemisahan namun sayangnya dapat dirusak oleh bakteri dan zat kimia serta rentan terhadap pH. Adapula membran dari polimer polisulfon, akrilik, polikarbonat, PVC, poliamida, poliviniliden fluorida, kopolimer AN-VC, poliasetal, poliakrilat, kompleks polielektrolit, dan PVA ikat silang. Selain itu, membran dapat dibuat dari keramik, aluminium oksida, zirkonium oksida, dsb.
Membran ultrafiltrasi berfungsi sebagai saringan molekul. Ultrafiltrasi memisahkan molekul terlarut berdasarkan ukuran dengan melewatkan larutan tersebut pada filter. Ultrafiltrasi merupakan membran permeabel kasar, tipis, dan selektif yang mampu menahan makromolekul seperti koloid, mikroorganisme, dan pirogen. Molekul yang lebih kecil seperti pelarut dan kontaminan terionisasi dapat melewati membran UF sebagai filtrat. Keuntungan ultrafiltrasi secara efektif mampu menghilangkan sebagian besar partikel, pirogen, mikroorganisme, dan koloid dengan ukuran tertentu. Selain itu, mampu menghasilkan air kualitas tinggi dengan hanya sedikit energi. Berikut proses filtrasi pada proses ultrafiltrasi.
ultrafiltrasi2
Gambar 2 Proses Filtrasi pada Membran Ultrafiltrasi

C. Nanofiltrasi (NF)

Nanofiltrasi adalah proses pemisahan jika ultrafiltrasi dan mikrofiltrasi tidak dapat mengolah air seperti yang diharapkan. Nanofiltrasi dapat menghasilkan proses pemisahan yang sangat terjangkau secara ekonomis namun belum dapat mengolah mineral terlarut, warna dan salinasi air sehingga air hasil olahan (permeate) masih mungkin mengandung ion monovalen dan larutan dengan pencemar yang memiliki berat molekul rendah seperti alkohol. Pengolahan menggunakan nanofiltrasi umumnya menggunakan membran berukuran 0.0001–0.001 mikron.
Proses nanofiltrasi merejeksi kesadahan, menghilangkan bakteri dan virus, menghilangkan warna yang disebabkan oleh senyawa organik tanpa menghasilkan zat kimia berbahaya seperti hidrokarbon terklorinasi. Nanofiltrasi cocok bagi air dengan total padatan terlarut yang rendah, dilunakkan dan dihilangkan senyawa organiknya. Formulasi dasarnya mirip reverse osmosis tetapi mekanisme operasionalnya mirip ultrafiltrasi. Jadi, nanofiltrasi merupakan gabungan antara reverse osmosis dan ultrafiltrasi.

D. Reverse Osmosis (RO)

Reverse osmosis adalah proses pengolahan yang membutuhkan tekanan relatif tinggi, walaupun pada beberapa kasus dapat digunakan dalam tekanan rendah, hemat energi, menghasilkan air olahan yang dapat menyaring zat dengan molekul terkecil sekalipun yang tidak dapat diolah oleh proses mikrofiltrasi, ultrafiltrasi dan nanofiltrasi. Reverse osmosis didasarkan pada prinsip osmosis. Dalam osmosis, membran semipermeabel memisahkan dua larutan dengan jumlah kandungan zat terlarut yang berbeda, dengan kata lain kedua larutan tersebut memiliki konsentrasi yang berbeda. Membran semipermeabel melewatkan air dan senyawa lain berbobot molekul rendah dan menahan senyawa dengan bobot molekul tinggi seperti senyawa-senyawa organik dan kompleks logam. Adanya tekanan menyebabkan air melewati membran dari larutan konsentrasi rendah (encer) ke larutan dengan konsentrasi yang lebih tinggi (pekat) seperti terlihat pada Gambar 3, tekanan tersebut dinamakan tekanan osmosis.
proses osmosis
Gambar 3 Peristiwa Osmosis
Air memiliki kecenderungan untuk bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi sampai diperoleh konsentrasi yang sama, hal ini diilustrasikan pada Gambar 4.
akhir osmosis
Gambar 4 Hasil Akhir Peristiwa Osmosis
Dalam reverse osmosis (RO), tekanan diberikan pada larutan yang lebih pekat, besarnya tekanan tergantung perbedaan konsentrasi antara kedua larutan, tekanan tersebut harus dapat melampaui tekanan osmosis (Gambar 5).
RO
Gambar 5 Peristiwa Reverse Osmosis
Air yang telah ditreatment dengan RO mampu menghasilkan 10-35 galon per hari. Jumlah tersebut tergantung pada beberapa faktor, diantaranya tipe dan kondisi membran, kondisi operasi (seperti laju alir dan tekanan) dan kualitas air baku (seperti konsentrasi kontaminan, suhu, dan pH). Hasil pengukuran RO dapat dinyatakan sebagai % Recovery dan % Rejeksi. Persen recovery menunjukkan bagian air yang melewati RO dan keluar sebagai air bersih (air yang telah ditreatment), sedangkan persen rejeksi menunjukkan bagian air yang melewati RO dan keluar sebagai air buangan (wastewater).
% Recovery = (Volume air setelah treatment/Volume total air baku) x 100
Sistem RO dalam rumah tangga didesain dengan menghasilkan % Recovery 20-30%, hal ini berarti 100 galon/hari air baku dapat menghasilkan 20-30 galon/hari air yang telah ditreatment dan 80 galon/hari air buangan (wastewater). Apabila laju alir wastewater lambat, kemungkinan % Recovery tinggi, demikian pula sebaliknya. Persen rejeksi menyatakan persentase kontaminan yang tidak melewati membran. Persen rejeksi dapat menunjukkan kualitas air yang dihasilkan, misalnya air baku mengandung nitrat 40 mg/l dengan % Rejeksi 85%, hal ini berarti terdapat 0.85 x 40 = 34 mg/l nitrat dalam wastewater dan meninggalkan hanya 6 mg/l nitrat dalam air hasil treatment.
Komponen unit RO (Gambar 6) terdiri atas strainer, pompa booster, filter cartridge, dan membran RO. Strainer berfungsi untuk menghilangkan padatan terlarut berukuran besar dari air baku, hal ini bertujuan untuk melindungi pompa booster. Pompa booster berfungsi untuk meningkatkan tekanan dari air baku, tekanannya berkisar antara 150-800 psi. filter Cartridge digunakan untuk menghilangkan partikel-partikel dari air baku yang dapat mengotori unit RO, ukuran pori filter berkisar antara 1-5 mikron. Material membran yang umum digunakan adalah poliamida aromatik, selulosa asetat (SA), polieteramida, polieteramina, polieterurea, polifelilena oksida, polifenilena bibenzimidazol. Membran PA digunakan pada tipe bentuk spiral membentuk komposit film tipis atau poliamida thin-film composit (TFC). TFC lebih mahal, serta memiliki kekuatan dan durabilitas (daya tahan) yang lebih baik dibandingkan SA. Selain itu, TFC memiliki % Rejeksi yang tinggi terhadap TDS, tahan terhadap serangan mikroba, dan toleran terhadap pH tinggi. TFC dapat digunakan pada kisaran pH 2-11 dengan toleransi suhu 160°F dibandingkan dengan membran material tunggal (single-material membrane). Sementara itu, SA lebih murah dan toleran terhadap klorin, biasanya digunakan sebagai desinfektan dalam air minum. Membran SA memiliki kisaran pH 2.5-7 dengan toleransi suhu yang lebih rendah 85°F, membran tersebut bersifat biodegradabel Setiap membran terdiri atas membran film tipis yang terikat pada lapisan material-material pori yang mendukung dan menguatkan membran. Membran tipe lain adalah polisulfon sulfonat (SPS), SPS toleran terhadap klorin dan pH tinggi, lebih mahal dibandingkan SA tetapi kurang efektif jika dibandingkan dengan TFC. SPS dapat digunakan ketika air baku licin dan memiliki pH tinggi. Tipe membran RO bergantung pada karakteristik air baku.
Sebelum mesuk unit RO, air baku melewati pretreatment, diantaranya:
• Pengaturan pH: Apabila pH air baku berada di luar kisaran pH membran
• Pemisahan minyak dan lemak: Digunakan untuk air baku yang mengandung minyak atau lemak.
• Desinfektan: Air baku sebaiknya ditambahkan desinfektan untuk mencegah bakteri dari kerusakan dan pengotoran membran. UV biasanya digunakan untuk menghilangkan klorin.
• Pengaturan suhu: Apabila suhu air baku lebih besar dibandingkan suhu membran, heat exchanger atau alat lain dapat digunakan untuk mendinginkan air baku dan mencegah kerusakan membran.
komponen RO
Gambar 6 Komponen Unit RO
Sistem RO sangat baik digunakan untuk air yang memiliki kontaminan anorganik terlarut, terutama air yang mengandung nitrat yang berasal dari limbah pertanian. Beberapa kontaminan yang dapat dihilangkan oleh filter membran RO terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1 Jenis kontaminan yang dapat dihilangkan dengan unit RO
Ion dan LogamArsen, Aluminium, Barium, Kadmium, Kalsium, Klorida, Kromium, Tembaga, Fluorida, Besi, Timbal, Magnesium, Mangan, Merkuri, Nitrat, Kalium, Radium, Selenium, Perak, Natrium, Sulfat, Besi.Partikel-partikelAsbestos, Protozoa, CryptosporidiumPestisidaEndrin, Heptaklor, Lindan, Pentaklorofenol
Beberapa kontaminan yang tidak dapat dihilangkan dengan filter RO yaitu, gas terlarut seperti hidrogen sulfida, beberapa pestisida tertentu, pelarut, dan senyawa organik volatil (VOCs). Efisiensi membran RO dalam menghilangkan kontaminan tergantung konsentrasi kontaminan, sifat-sifat kimia kontaminan, tipe dan kondisi membran, serta kondisi operasi. Setiap metode memiliki keterbatasan dalam menghilangkan kontaminan, tidak ada metode yang dapat menghilangkan semua kontaminan, dibutuhkan kombinasi antara dua metode treatment air sehingga diperoleh air yang bersih bebas segala kontaminan. Biasanya unit RO dikombinasikan dengan karbon aktif.
Berdasarkan uraian diatas, sistem RO memiliki keuntungan diantaranya mampu menghilangkan senyawa-senyawa anorganik maupun senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam air, mampu menghilangkan parasit dan mikroorganisme seperti virus, mampu menghasilkan air lebih murni dibandingkan dengan sistem destilasi dengan harga yang lebih murah. Selain itu, sistem RO tidak membutuhkan aliran listrik hanya membutuhkan tekanan tinggi untuk dapat beroperasi.
Sistem RO juga memiliki beberapa kerugian diantaranya output air yang dihasilkan setelah treatment lebih sedikit, tidak mampu menghilangkan beberapa pestisida tertentu, pelarut, dan senyawa-senyawa organik volatil (VOCs) sehingga harus dilengkapi dengan filter post karbon untuk menghilangkan kontaminan tersebut, pada saat tidak diberikan tekanan, sistem RO tidak dapat beroperasi, RO memerlukan perawatan yang intensif untuk membran prefilter dan postfilter serta tanki penyimpanan harus dikontrol secara periodik Selain itu, pada sistem RO kerusakan membran sulit dideteksi.

Pertukaran Ion

Ion merupakan atom atau molekul yang bermuatan, dapat bermuatan positif maupun negatif. Secara umum metode pertukaran ion terdiri atas softening dan deionisasi. Softening utamanya digunakan sebagai metode pretreatment untuk mereduksi air sadah sebelum memasuki proses reverse osmosis (RO).

A. Softening

Air tanah melarutkan bebatuan dan melepaskan mineral-mineral salah satunya ion kalsium dan magnesium. Keberadaan kalsium dan magnesium ini dapat menyebabkan air bersifat sadah atau lebih dikenal dengan istilah hardwater. Mineral-mineral tersebut dapat menurunkan kualitas air, terlihat dari sifat fisiknya yang nampak keruh dan berbau. Kalsium dan magnesium terdapat dalam bentuk CaCO3 dan MgCO3, kedua garam tersebut dapat dihilangkan dengan pemanasan namun membutuhkan energi yang besar. Agen pembersih yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian pun tidak mampu menghilangkan kotoran dan kuman apabila menggunakan air sadah, bahkan membuat pakaian menjadi kusam. Selain itu, mineral-mineral tersebut dapat meninggalkan kerak putih pada kamar mandi.
Kesadahan air atau water hardness dapat dihilangkan dengan metode pertukaran ion.. Water hardness dapat dinyatakan dalam grain per gallon (gpg) dan part per million (ppm) atau miligram per liter (mg/L). 1 gpg sama dengan 17 ppm(mg/L). Tabel 2 menunjukkan tingkat kesadahan air.
Tabel 2 Klasifikasi kesadahan air (sebagai CaCO3)
Tingkat Kesadahan ppm atau mg/L grain/galon (gpg)
Tidak sadah 0-17 0-1
Sedikit sadah 17-60 1-3.5
Cukup sadah 60-120 3.5-7
Sadah 120-180 7-10.5
Sangat sadah >180 >10.5
Pertukaran ion mampu menghilangkan ion Ca dan Mg penyebab kesadahan air dan menggantinya dengan ion yang tidak menyebabkan kesadahan seperti ion Na. Na dapat diperoleh dari garam NaCl. Untuk mengatasi kesadahan (hardness) dapat digunakan suatu softener yang mengandung resin pertukaran mikropori, biasanya berupa polistirena sulfonat yang sangat jenuh dengan Na, menutupi seluruh permukaan resin. Resin menukar dua ion Na+ untuk setiap ion Ca2+ atau Mg2+ yang akan dihilangkan. Air akan melewati resin ini, ion Ca dan Mg yang berasal dari air sadah menyerang resin dan menggantikan posisi ion Na dalam resin sehingga resin melepaskan ion Na ke dalam air. Proses tersebut merupakan proses softening air sadah seperti terlihat pada Gambar 7. Setelah proses softening dalam jumlah besar, resin menjadi jenuh dengan ion Ca dan Mg sehingga resin harus diregenerasi (Gambar 7). Resin yang telah jenuh ditambahkan larutan pencuci yang mengandung ion Na (brine solution) sehingga ion Na akan menggantikan kembali posisi ion Ca dan Mg dalam resin, ion Ca dan Mg keluar sebagai wastewater. Secara garis besar dalam proses softening maupun regenerasi terjadi reaksi sebagai berikut:
Proses softening: Na-Resin + Ca2+/Mg2+  Ca-Resin/Mg-Resin + Na+
Proses regenerasi: NaCl + Ca-Resin/Mg-Resin  Na-Resin + Ca2=/Mg2+
softening
Gambar 7 Proses Softening dan Regenerasi (Recharge)
Frekuensi untuk regenerasi resin tergantung tingkat kesadahan air, jumlah air yang digunakan, ukuran softener, serta kapasitas resin. Waktu regenerasi sekitar 60-120 menit. Pada proses softening, Na yang ditambahkan ke dalam setiap galon air sadah 8 ppm. Setelah treatment, air dengan kesadahan 10 gpg akan memiliki kandungan Na sebesar 80 ppm. Hal ini berarti untuk setiap liter air (0.26 galon) yang masuk mengandung 80 mg Na.
Water softener diklasifikasikan ke dalam lima kategori, yaitu:
  •   Manual: Operator menutup dan membuka kran untuk mengontrol frekuensi, tingkat dan waktu regenerasi.
  •   Semi-automatic: Operator hanya mengawali siklus regeneasi, tombol ditekan saat softener perlu untuk diregenerasi, kemudian unit akan mengontrol dan melengkapi proses regenerasi.
  •   Automatic: Softener dilengkapi pengatur waktu yang secara otomatis akan mengawali siklus
regenerasi dan setiap tahapan dalam proses tersebut. Operator hanya perlu mengatur waktu dan menambahkan garam sesuai kebutuhan. Regenerasi umumnya dilakukan saat penggunaan air sedikit, yaitu sekitar jam 4 pagi atau tengah malam. Tipe softener ini paling polular digunakan.
  •   Demand Initiated Regeneration (DIR): Semua operasi diawali secara otomatis tergantung respon
penggunaan air dan permintaan akan proses softening. Sistem DIR secara umum mempunyai dua tanki softening dan satu tanki larutan pencuci (brine solution). Pada saat sedang berlangsung proses softening pada satu tanki, akan berlangsung proses regenerasi pada tanki lainnya.
  •   Off-site regeneration: Penggunaan tanki softening secara fisik diganti dengan tanki regenerasi.
Setelah proses softening kemudian diregenerasi di lokasi pusat.
Semua tipe softener harus diinstal secara tepat dan dimonitor untuk pengoperasian yang sesuai. Softener tipe automatic dan DIR membutuhkan lebih banyak garam. Jumlah garam yang ditambahkan tergantung jumlah individu setiap rumah, penggunaan air sehari-hari, kapasitas softener, dan tingkat kesadahan. Sementara ukuran softener tergantung tingkat kesadahan, penggunaan air sehari-hari, dan laju alir air. Berikut adalah tipe instalasi softener air (Gambar 8).
instalasi softener
Gambar 8 Instalasi Softener Air
Selama proses softening natrium dilepaskan dari resin ke air yang akan digunakan sehingga kandungan natrium dalam air tinggi, penggunaan garam natrium dapat diganti dengan KCl untuk alasan kesehatan maupun kelestarian lingkungan. KCl memang lebih mahal namun aman bagi tubuh dibandingkan dengan NaCl. KCl relatif mahal karena KCl terikat lebih kuat pada resin sehingga mereduksi efisiensi proses softening dan KCl yang dibutuhkan lebih banyak.
Perawatan untuk softener tergantung tipe softener yang digunakan. Tanki larutan pencuci harus selalu diperiksa dan dibersihkan secara teratur. Frekuensi pembersihan bergantung pada tipe dan kemurnian garam yang digunakan dalam proses softening serta karakteristik air yang akan ditreatment. Proses backwash resin sangat penting untuk efisiensi regenerasi. Apabila proses backwash dilakukan semi-otomatis, backwash sebaiknya tetap dilanjutkan sampai diperoleh air yang benar-benar bersih. Apabila proses backwash dilakukan secara otomatis, atur waktu backwash cukup lama sehingga diperoleh air bersih. Kandungan besi > 5 ppm, mangan atau hidrogen sulfida yang cukup tinggi dalam air akan mereduksi efektivitas softener, apabila ini terjadi resin harus dibersihkan terlebih dahulu atau bahkan diganti.
Keuntungan purifikasi air dengan metode pertukaran ion melalui proses softening diantaranya dapat menghilangkan ion Ca2+ dan Mg2+ sehingga air lebih bersih dan lembut untuk pakaian, membuat mesin cuci dan alat rumah tangga lainnya tahan lama, deterjen ataupun sabun yang digunakan pun lebih sedikit. Adapun kerugian metode ini diantaranya air hasil softening tidak direkomendasikan untuk menyiram tanaman dan kebun karena kandungan natriumnya, dapat mereduksi efektivitas sistem septik dan selokan, beresiko terhadap kesehatan akibat pemasukan natrium yang tinggi ke dalam tubuh.
Masalah kesadahan air untuk keperluan mencuci dapat direduksi dengan menggunakan deterjen yang telah ditambahkan formula kimia softening. Beberapa senyawa kimia yang ditambahkan untuk mereduksi efek negatif dari air sadah meliputi Sal soda dan Calgon. Sal soda dikombinasikan dengan kalsium dan magnesium membentuk partikel padat, merupakan zat aditif pengendap, tidak bersih secara sempurna karena partikel padat kemungkinan melekat pada serat pakaian. Calgon dikombinasikan dengan kalsium dan magnesium membentuk senyawa dalam larutan, merupakan zat aditif bukan pengendap namun berakibat negatif pada lingkungan karena kandungan fosfat yang sangat tinggi.

B. Deionisasi

Deionisasi merupakan suatu metode dimana aliran air akan melewati 2 material pertukaran ion dalam hal ini resin sehingga dapat menghilangkan semua kandungan garam. Deionisasi menukar baik ion H+ (kation) maupun ion OH- (anion). Resin penukar kation terbuat dari stirena dan divinil benzena yang mengandung gugus asam sulfonat yang akan menukarkan setiap ion H+ untuk berbagai kation seperti Na+ Ca2+ dan Al3+. Demikian halnya dengan resin penukar anion, terbuat dari stirena dan mengandung gugus ammonium kuarterner yang akan menukar setiap ion OH- dengan berbagai anion seperti Cl-. Ion hidrogen dari unit penukar kation dan ion hidroksil dari unit penukar anion akan membentuk air murni.
Aliran air pertama melewati resin penukar kation hanya menghilangkan ion Ca2+ dan Mg2+ sebagaimana proses softening normal. Deionisasi juga dapat menghilangkan ion-ion logam positif lain selama proses dan menggantinya dengan ion H+. Ion logam mampu menempatkan dirinya pada resin pertukaran kation. Pertukaran ion H+ dan ion positif lainnya harus ekuivalen secara kimia untuk menjaga keseimbangan muatan listrik. Ion Na+ menggantikan 1 ion H+ dari resin, ion Ca2+ menggantikan 2 ion H+ dari resin, ion Fe3+ menggantikan 3 ion H+ dari resin. Hasil akhir setelah melewati penukar kation diperoleh ion H+ dengan konsentrasi relatif tinggi sehingga larutan bersifat asam. Dalam hal ini proses deionisasi terjadi secara parsial. Selanjutnya air akan mengalir melalui penukar anion, pertukaran terjadi antara ion OH- dengan ion negatif lain seperti Cl-. Dari semua proses tersebut, sistem akan menghasilkan air bebas ion seperti pada Gambar 9.
deionisasi
Gambar 9 Proses Deionisasi
Ada beberapa tipe untuk proses deionisasi yaitu, untuk unit multiple dan unit single. Unit multiple mempunyai sepasang tangki untuk penukar kation dan penukar anion. Sementara unit single hanya memiliki satu tangki, penukar anion dan kation dicampurkan dalam satu tempat. Material penukar ion (resin penukar ion) tersebut harus diregenerasi sehingga dapat digunakan kembali untuk proses purifikasi air.
Deionisasi dapat menjadi komponen penting dalam sistem purifikasi air secara total ketika dikombinasikan dengan metode lain seperti RO dan adsorpsi karbon. Deionisasi mampu menghilangkan kontaminan berupa ion-ion secara efektif tetapi tidak mampu menghilangkan senyawa-senyawa organik maupun mikroorganisme. Mikroorganisme dapat menyerang resin karena resin dapat menyediakan media untuk pertumbuhan bakteri dan generasi pirogen. Secara garis besar, keuntungan deionisasi menghilangkan senyawa anorganik secara efektif, mampu diregenerasi, modal awal relatif murah. Namun terdapat beberapa kerugian dari deionisasi yaitu, tidak dapat menghilangkan partikel-partikel kecil, pirogen atau bakteri dan biaya operasionalnya relatif mahal.

Adsorpsi Karbon

Adsorpsi (penyerapan) adalah suatu proses pemisahan dimana komponen dari suatu fase fluida/cairan berpindah ke permukaan zat padat yang menjerap (adsorban). Biasanya partikel-partikel kecil zat penjerap dilepaskan pada adsorpsi kimia, terbentuk ikatan kuat antara penjerap dan zat yang dijerap sehingga tidak mungkin terjadi proses yang bolak-balik (Tinsley 1979). Pada adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorban, dimana adsorbat adalah substansi yang terjerap atau substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya, sedangkan adsorban adalah merupakan suatu media penjerap yang dalam hal ini biasanya berbentuk padatan (Webar 1972). Pada proses ini adsorbat menempel dipermukaan adsorban membentuk suatu lapisan tipis (film). Dalam proses purifikasi air adsorban yang digunakan biasanya berupa karbon sehingga dikenal istilah proses adsorpsi karbon.
Produksi karbon aktif dunia diperkirakan 300000-400000 ton. Sekitar 80% karbon aktif diaplikasikan pada fase cair. karbon aktif dapat berasal dari arang hasil pembakaran, batu bara, lignit, produk-produk kayu, batok kelapa, dan lainnya. Karbon tersebut kemudian diaktivasi dengan memberikan uap pada suhu tinggi (2300°F) tanpa pemberian oksigen. Pada beberapa kasus, karbon juga diproses dengan asam pencuci atau dilapisi oleh suatu senyawa yang dapat menambah kemampuan karbon dalam menghilangkan kontaminan tertentu. Karbon yang telah diaktivasi memiliki ukuran partikel yang kecil dan luas permukaan yang besar sehingga memungkinkan kontaminan lebih banyak terjerap ke dalam karbon. PAC (Powdered Activated Carbon) diperoleh dengan menghaluskan karbon sehingga diperoleh karbon berupa serbuk yang sangat halus. Luas permukaan karbon aktif berkisar 500-1400 m2/g (Hassler 1974).
Karbon aktif mempunyai ukuran pori yang sangat banyak. Pori-pori ini dapat menangkap partikel-partikel yang sangat halus maupun molekul organik yang besar seperti rasa, warna, maupun bau dan menjebaknya disana. Karbon aktif memiliki jaringan pori yang sangat luas dan berubah-ubah bentuknya untuk menerima molekul kontaminan baik besar maupun kecil. Pori karbon aktif diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan diameter pori. Variasi pori meliputi mikropori (2 nm), mesopori (2-50 nm), dan makropori (>50 nm).
Adsorpsi karbon aktif merupakan proses adsorpsi dimana kontaminan ditarik atau dijerap oleh permukaan partikel karbon (Gambar 10). Efisiensi proses adsorpsi dipengaruhi oleh karakteristik karbon (ukuran partikel, ukuran pori, luas permukaan, densitas, kekerasan) dan karakteristik kontaminan (konsentrasi, kelarutan kontaminan, penarikan kontaminan ke permukaan karbon. Adsorpsi karbon merupakan metode yang sering digunakan dalam treatment air karena kemampuannya dalam menghilangkan rasa dan bau termasuk klorin. Karbon aktif dapat menghilangkan banyak senyawa kimia dan gas, bahkan senyawa mikroorganisme. Karbon aktif sangat baik digunakan untuk menghilangkan kontaminan kelas 1 yang merupakan senyawa organik penyebab rasa dan bau menurut Enviroment Protect Agency(EPA).
proses adsorpsi
Gambar 10 Proses Adsorpsi Karbon Aktif
Pada proses adsorpsi, kontaminan mematahkan ikatannya dengan molekul air untuk berikatan kimia dengan media filter. Kontaminan yang dapat dihilangkan dengan karbon aktif terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis kontaminan yang dapat dihilangkan dengan karbon aktif
Kontaminan Jenis Kontaminan
Ion dan Logam Klorin, Radon
Senyawa Kimia Organik Benzena, Karbon Tetraklorida, Dikloro Benzena, Toluena, Trikloroetilena, Trihalometana (THMs)
Pestisida 1,2,4-Triklorobenzena, 2,4-D, Atrazine
Kontaminan tidak semua dapat diatasi dengan satu metode karena semua metode memiliki keterbatasan, dan terkadang harus dikombinasikan untuk mentreatment air sehingga diperoleh air bersih. Setiap tipe karbon memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghilangkan kontaminan, tidak ada satupun karbon yang dapat menghilangkan semua kontaminan secara maksimal. Adsorpsi karbon aktif tidak dapat menghilangkan virus, bakteri, kalsium dan magnesium, fluorida, nitrat dan senyawa lainnya. Efektivitas penghilangan kontaminan yang spesifik tergantung pada sumber atau tipe karbon dan metode aktivasi. Contohnya, karbon yang paling efektif untuk menghilangkan Timbal berbeda tipe dan metode aktivasinya dengan karbon yang digunakan untuk menghilangkan klorin. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kapasitas adsorpsi.
Tabel 4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas adsorpsi
>
Faktor yang mempengaruhi Efek
Luas Permukaan Luas permukaan sebanding dengan kapasitas adsorpsi (luas permukaan ditentukan oleh derajat aktivasi)
Ukuran Pori Ukuran pori sangat penting untuk proses distribusi karena menyediakan sisi adsorpsi dan jalan untuk transport adsorbat
Kelarutan Senyawa dengan kelarutan rendah dalam pelarut dijerap lebih mudah dibandingkan dengan senyawa dengan kelarutan tinggi
Struktur Molekul Senyawa organik rantai bercabang lebih mudah dijerap dibandingkan dengan rantai lurus
Ukuran Partikel Partikel yang lebih kecil memiliki tingkat adsorpsi yang lebih besar
Polaritas Senyawa nonpolar lebih mudah dijerap dibandingkan dengan senyawa polar
Sifat Hidrokarbon Senyawa hidrokarbon tak jenuh (ikatan ganda atau rangkap tiga) akan dijerap lebih mudah dibandingkan hidrokarbon jenuh (ikatan tunggal)
Suhu Suhu yang rendah dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi kecuali untuk l;arutan yang kental
Nilai pH Kapasitas adsorpsi meningkat pada kondisi pH rendah
Konsentrasi Adsorbat Kapasitas adsorpsi sebanding dengan konsentrasi adsorbat
Waktu Kontak Waktu kontak yang cukup dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan adsorpsi
Waktu kontak antara air dan karbon ditentukan oleh laju alir dan proses adsorpsi kontaminan. Semakin lama waktu kontak semakin besar pula jumlah kontaminan yang teradsorpsi. Jumlah karbon dalam filter juga mempengaruhi proses penghilangan kontaminan, contohnya karbon dalam jumlah sedikit secara umum hanya mampu menghilangkan rasa dan senyawa penyebab bau, sementara untuk menghilangkan THMs diperlukan jumlah karbon yang lebih banyak. Jumlah karbon juga mempengaruhi kecepatan penjenuhan media.
Pada saat semua sisi aktif karbon terisi oleh kontaminan, media menjadi jenuh dan telah mencapai kapasitasnya. Pada saat seperti itu kontaminan tidak dapat lagi dijerap atau mungkin beberapa kontaminan terlepas kembali ke dalam air. Apabila ini terjadi, kemungkinan kontaminan dalam air setelah treatment lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum treatment, untuk mencegahnya kita harus mengetahui kapasitas media yang digunakan. Media yang telah jenuh dapat diregenerasi kembali artinya setelah proses aktivasi karbon mencapai batas maksimum dan semua sisi aktif terisi, regenerasi dapat dilakukan dengan mencuci dan memanaskan kembali karbon aktif pada suhu 820-930° C. Persen recovery dari proses regenerasi berkisar 90-95%.
Rangkaian unit sistem adsorpsi karbon aktif terdiri atas tipe point of use(POU) dan point of entry (POE). POE mentreatment semua air yang masuk ke rumah. Tipe ini direkomendasikan untuk mentreatment senyawa-senyawa berbahaya dalam air seperti radon dan VOCs. VOCs mudah menguap tetapi tetap menempel pada shower, mesin cuci, maupun dishwasher sehingga kemungkinan tetap kontak dengan kulit. POE dapat mereduksi kontaminan saat masuk dalam berbagai situasi. POE harus memperhatikan waktu kontak, tipe dan jumlah karbon yang digunakan untuk membuang air buangan (wastewater).
POU mentreatment air pada saat akan digunakan, biasanya sistem ini hanya digunakan untuk minum dan keperluan memasak. Pada tipe ini air yang akan digunakan saja yang ditreatment, air yang bukan untuk konsumsi tidak ditreatment dan dikeluarkan melalui suatu kran. Filter karbon pada tipe ini tidak dihubungkan dengan sumber air/air baku, harganya lebih murah dan susunan alatnya sederhana, namun air yang ditreatment jumlahnya terbatas karena waktu kontak terbatas dan jumlah karbon pun sedikit.
Berdasarkan uraian diatas, keuntungan adsorpsi karbon adalah menghilangkan senyawa organik volatil (VOCs) terlarut dan klorin secara efektif dan memiliki kapasitas adsorpsi yang tinggi (long life) untuk menghilangkan lebih banyak kontaminan, sementara kerugiannya karbon aktif relatif mahal, aktivasi karbon dapat mengembangbiakan mikroorganisme, hal ini dapat menjadi keuntungan pula sejak mikroba mampu mendegradasi senyawa organik terlarut. Solusinya adalah air harus didesinfeksi sebelum melalui media karbon, post desinfeksi juga sebaiknya digunakan karena reaksi dengan karbon aktif dapat menghilangkan zat pengoksidasi yang digunakan pada saat awal proses desinfeksi. Perlu diketahui, kondisi yang paling baik untuk pertumbuhan bakteri yaitu saat filter jenuh dengan kontaminan organik karena dapat menyediakan sumber makanan untuk bakteri, dan pada saat filter tidak digunakan lagi dalam jangka waktu lama. Kondisi seperti itu dapat membuat air tidak jernih, untuk mengatasinya karbon aktif harus dilengkapi dengan logam perak yang dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Namun, efektivitas prosedur ini tidak valid karena perak juga dapat mengkontaminasi air. Hal terbaik adalah kita harus sering mengganti karbon aktif lebih sering lagi daripada yang dianjurkan dalam petunjuk pemakaian. Kerugian lain, karbon aktif menghasilkan emisi tinggi berupa sulfur oksida (SO2), emisi tersebut dapat diperoleh dari proses pemanasan pembuatan karbon aktif dari batu bara.

Destilasi

Destilasi merupakan metode tertua untuk treatment air, metode ini efektif untuk mereduksi berbagai kontaminan. Destilasi dapat menghilangkan lebih banyak kontaminan dalam air, senyawa yang dapat dihilangkan meliputi natrium, senyawa penyebab kesadahan seperti kalsium dan magnesium, senyawa padatan terlarut lain seperti besi, mangan, fluorida, dan nitrat. Destilasi dapat menonaktifkan mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan protozoa. Selain itu, destilasi juga dapat menghilangkan berbagai senyawa organik dan logam berat seperti timbal, klorin, kloramin, dan radionukleotida. Kendala yang dihadapi, destilasi dapat menghilangkan kandungan oksigen sehingga apabila terdapat logam-logam kelumit akan menyebabkan air berasa. Alat destilasi pun memiliki keterbatasan yaitu, tidak mampu menghilangkan secara sempurna kontaminan berupa pestisida, pelarut volatil, serta senyawa organik volatil (VOCs) seperti benzena dan toluene.
Destilasi bekerja dengan prinsip penguapan dan kondensasi. Elemen pemanas listrik (1000-1500 watt) memanaskan air yang belum ditreatment sehingga dihasilkan uap. Uap akan memasuki bagian pendingin dan dikondensasikan menjadi air destilat dalam kondensor, kemudian dialirkan ke kontainer penyimpanan. Beberapa alat destilasi menggunakan udara untuk mendinginkan uap, bahkan ada pula yang menggunakan aliran air untuk mendinginkan uap. Air yang terkumpul dalam kontainer telah bebas dari kontaminan, lebih dari 99.5% kontaminan dapat dihilangkan dengan destilasi. Sementara air yang berada dalam chamber pemanasan yang masih mengandung kontaminan dengan konsentrasi tinggi dikeluarkan melalui suatu saluran dalam chamber (drain). Kontaminan seperti senyawa anorganik dan senyawa organik nonvolatil tidak diuapkan tetapi meninggalkan unit chamber melalui saluran belakang. Gambar 11 merupakan tipe alat destilasi.
alat des
Gambar 11 Tipe alat destilasi
Pemanasan dapat menonaktifkan bakteri, virus, dan protozoa. Senyawa organik volatil (VOCs) diketahui dapat teruapkan seperti air bahkan lebih cepat, hal ini dapat mengganggu proses penghilangan kontaminan, untuk menghilangkan kontaminan-kontaminan tersebut, metode destilasi sebaiknya dikombinasikan dengan metode lain. Alat destilasi dapat dilengkapi dengan lubang gas (gas vent), lubang ini dapat melewatkan VOCs keluar dari unit destilasi sebelum memasuki kondensor. Opsi lain dapat menggunakan destilasi kolom bertingkat (fraksional). Dalam destilasi tipe ini, VOCs dikondensasikan terpisah dari kondensasi air. Opsi ketiga menggunakan filter karbon aktif untuk menghilangkan VOCs dari air kondensat sebelum air memasuki tanki penyimpanan. Alternatif lain, karbon aktif ditempatkan di air baku sehingga VOCs telah dihilangkan sebelum memasuki unit destilasi.
Pada umumnya, VOCs dalam air akan menguap lebih dulu dibandingkan dengan air baku selama proses destilasi. Jika tidak dihilangkan, VOCs akan terkondensasi kembali ke cairan bersama dengan air destilat. Berdasarkan hal tersebut, untuk alat destilasi yang tidak disertai gas vent sebaiknya dilakukan pretreatment dengan karbon aktif untuk menghilangkan VOCs atau menggunakan destilasi bertingkat.
Biaya operasional untuk destilasi harus diperhatikan, yang paling signifikan adalah biaya operasional listrik yang dibutuhkan untuk memanaskan air hingga terbentuk uap. Biaya operasional secara langsung dipengaruhi oleh jumlah air destilat yang digunakan sehari-hari. Biaya operasional ini paling mahal dibandingkan dengan metode treatment air lainnya. Biaya untuk mendestilasi 1 galon air ditentukan oleh besarnya daya listrik dalam setiap unit. Contohnya, 1 unit alat destilasi membutuhkan daya 1100 watt untuk mendestilasi 1 galon air dalam waktu 3 jam dengan biaya $0.10/kWh, maka dapat diperkirakan biaya operasional yang dibutuhkan yaitu,
Biaya listrik = 1100watt/1000 watt per kWatt x 3 jam x $0.10/kWh = $0.33/gallon
Model alat destilasi didesain untuk kemudahan pembersihan dan direkomendasikan pula untuk sistem aliran otomatis. Secara umum, alat destilasi terbuat dari stainless steel, aluminium, dan material plastik. Material-material ini tidak memiliki kecenderungan untuk menyerap kontaminan dari air dan mudah untuk dibersihkan. Alat destilasi sebaiknya disimpan dalam kondisi sanitary untuk mencegah kontaminan datang kembali. Kontainer juga sebaiknya terbuat dari gelas atau stainless steel.
Ada 2 tipe dasar alat destilasi: Batch distiller, dilakukan secara manual, air dituang langsung ke chamber pemanas. Unit mulai dinyalakan dan air dipanaskan sampai mendidih. Pada saat air dalam chamber pemanas semua menguap, unit akan dimatikan. Air destilat disimpan dalam kontainer untuk kebutuhan rumah tangga. Unit batch distiller mampu menghasilkan 3-10 galon per hari. Batch distiller seperti terlihat pada Gambar 9.
alat destilasi
Gambar 9 Alat Destilasi Tipe Batch Distiller
Apabila terdapat 2 campuran dengan volatilitas yang berbeda, dengan A lebih volatil dibandingkan dengan B, campuran A dan B dimasukan ke batch destiller dan dipanaskan sampai mendidih sehingga diperoleh campuran dalam fase uap. Komposisi A dan B dalam fase cair akan berbeda dengan fase uap. Dalam fase uap, A lebih dominan dibandingkan dengan B karena A lebih mudah menguap. Uap akan masuk ke bagian pendingin dan dikondensasi kembali menjadi air destilat seperti terlihat pada gambar 9.
Continuous flow distiller, dilakukan secara otomatis, dihubungkan dengan sumber air baku. Tingkat air atau banyaknya air dalam chamber pemanas diatur oleh kran yang dihubungkan langsung ke sumber air. Air destilat akan dipindahkan ke kontainer penyimpanan dan secara otomatis proses destilasi akan berlangsung kembali memproduksi air destilat lebih banyak lagi. Air dalam chamber pemanas sisa proses destilasi yang masih mengandung kontaminan dibuang melalui suatu saluran. Peralatan tambahan yang terdapat dalam continuous flow distiller diantaranya kontainer penyimpanan suplemen, pompa transfer, dan kran khusus instalasi.
Air yang dipanaskan dalam alat destilasi menyebabkan mineral-mineral dan padatan lain terakumulasi dalam chamber pemanas. Apabila chamber tidak dibersihkan secara rutin, alat destilasi akan berkurang efisiensinya karena membutuhkan lebih banyak listrik untuk proses destilasi air. Biasanya digunakan asam organik untuk membersihkan chamber pemanas. Asam mineral kuat seperti asam hidroklorida, asam sulfat, atau asam nitrat sebaiknya tidak digunakan karena akan merusak stainless steel dan peralatan yang berlapis aluminium. Air sadah dapat menyebabkan kerak putih pada chamber pemanas, pembersihan chamber pemanas dapat menggunakan larutan cuka. Larutan cuka 50% juga mengandung asam organik lemah yang dapat digunakan sebagai agen pembersih. Tangki pemanas diisi dengan larutan cuka:air (1:1) kemudian dipanaskan selama 1 jam. Larutan dibiarkan berada dalam tangki pemanas. Lamanya waktu yang dibutuhkan tergantung jumlah kerak yang terbentuk dalam chamber pemanas. Apabila terbentuk banyak kerak akan diperlukan waktu yang lebih lama untuk proses pembersihan chamber. Alat destilasi biasanya dilengkapi sistem aliran otomatis yang dapat mengatur waktu proses pembersihan. Aliran manual juga dapat dilakukan sekali dalam 1 minggu. Air yang sangat sadah sebaiknya dilakukan pretreatment terlebih dahulu dengan menggunakan softener untuk mereduksi frekuensi pembersihan dan untuk menjaga efisiensi operasi.
Untuk air baku yang mengandung senyawa organik volatil (VOCs) dapat digunakan filter karbon aktif dan perawatannya mengganti filter karbon aktif tersebut setiap 3 bulan atau setiap 150-200 galon air destilat yang dihasilkan. Perawatan lain yaitu, menjaga kebersihan gas vent untuk membuang VOCs, mengganti elemen pemanas karena apabila pemanas tidak dapat bekerja misalnya karena terdapat banyak gelembung udara udara kontaminan dapat masuk ke alat destilasi, atau bisa juga mengganti kondensor. Tangki atau kontainer penyimpanan air destilasi sebaiknya juga didesinfeksi dan dibilas dengan air bersih secara teratur. Ketahanan alat destilasi bergantung pada beberapa faktor diantaranya persediaan air baku, frekuensi alat beroperasi, serta perawatan alat destilasi secara layak. Alat destilasi dengan kualitas yang baik mampu bertahan sekitar 10-15 tahun.
Berdasarkan uraian diatas, keuntungan alat destilasi dapat menghilangkan 99.5% kontaminan yang meliputi bakteri, berbagai jenis logam, mineral, dan padatan terlarut lainnya. Sementara itu kerugian dari penggunaan alat destilasi biaya operasionalnya paling mahal dibandingkan sistem treatment air lainnya.

Butuh informasi lebih lanjut?
Hubungi HYDRO di : 0856 93495507 / 0813 82283114
atau pin bb : 281E 8483
     Air Bersih (clean water) yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan memenuhi kualitas persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak (PERMENKES RI No. 416/MENKES/Per/IX/1990). Pertanyaanya adalah apakah air jernih yang kita lihat sehari-hari, yang biasa kita minum sudah benar-benar sehat dan layak untuk kita konsumsi? Dari mana kita tahu air tersebut memang bersih?
    Persyaratan air bersih bisa diuji secara sederhana atau dapat dilakukan tes di laboratorium. Kadar bau atau kekeruhan di cek dengan mencampurkan air yang akan di uji dengan air bersih. Caranya campurkan segelas air keruh/bau yang akan diuji dengan air bersih, apabila keruh/bau hilang berarti kadar bau/keruhnya rendah, apabila masih tercium bau atau keruh maka air itu sebaiknya tidak digunakan lagi. Cara terpopuler untuk menguji kandungan kimia dalam air adalah dengan menggunakan air teh. Caranya campurkan air yang akan diuji dengan air teh kemudian diamkan minimal 12 jam. Apabila warnanya masih seperti air teh berarti kualitasnya bagus, namun apabila warnanya semakin hitam menandakan kualitas airnya jelek. Lalu bagaimana cara mengetahui air yang mengandung kesadahan? Cara praktis untuk mengetahui kesadahan dalam air baku dapat dilakukan dengan cara melarutkan deterjen dalam air yang akan diuji. Apabila air tidak berbusa atau busa yang dihasilkan sedikit berarti air tersebut merupakan air sadah.
    Beberapa parameter yang layak untuk diperhitungkan sebagai parameter kunci adalah kandungan besi, mangan, zat organik, kekeruhan, warna, pH, dan kualitas mikrobiologis. Parameter diatas dianggap sebagai representasi dari kandungan zat dan parameter lain yang keberadaanya dalam air baku seringkali sangat mengganggu. Hal ini tentu tidak berarti zat yang lain diabaikan tetapi bila dianggap perlu, parameter lain sebaiknya diperiksa.

Beberapa cara analisis laboratorium yang digunakan untuk mengetahui kualitas air meliputi:
  • Uji Kesadahan (sebagai ppm CaCO3)
    Siapkan 50 mL contoh air dan masukkan ke dalam labu takar 100 mL, tambahkan 1 mL asam klorida pekat, setetes demi setetes melalui tepi labu takar, kemudian tepatkan dengan contoh air. Pipet 10 mL contoh air dari labu takar ke dalam erlenmeyer, tambahkan 50 mg asam askorbat, kemudian tambah 10 ml NH3 6M, aduk dan tambahkan 4 tetes indikator calmagite, titrasi dengan larutan EDTA sehingga warna berubah dari merah menjadi biru.

  • Uji Kadar Besi
    Langkah pertama, siapkan larutan standar besi 100 ppm, pipet sebanyak 1, 2, 3, 4, dan 5 mL larutan standar 100 ppm tersebut dan masukkan masing-masing kedalam labu takar 100 mL, tambahkan 5 mL larutan ortho-phenantrolin 0.25%, tepatkan masing-masing labu takar hingga volume 100 mL dengan air deion sehingga terbentuk larutan standar dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm. Ukur nilai absorbans dari masing-masing larutan standar dengan menggunakan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 510 nm. Langkah kedua, siapkan 50 mL contoh air yang akan diuji, masukan kedalam labu takar 100 mL, tambahkan 5 mL ortho-phenantrolin dan tepatkan labu takar tersebut dengan contoh air yang akan diuji. Ukur nilai absorbans sampel air pada panjang gelombang 510 nm. Untuk mengetahui kadar besi(Fe) dalam contoh air, dapat digunakan persamaan standar.

  • Uji Padatan Terlarut
    Sampel air disiapkan dalam wadah, kemudian alat TDS meter dimasukan ke dalam sampel air. Perhatikan dan catat nilai yang tertera pada TDS meter.

  • Uji nilai pH
    Sampel air disiapkan secukupnya, kertas pH dicelupkan ke dalam sampel air. Amati warna yang terbentuk pada kertas pH dan bandingkan dengan warna pada warna standar indikator universal.
    Sebagai acuan, terdapat standar air minum SNI No 01-3553-1996, berarti untuk air minum kontaminan yang diperbolehkan seperti tertera pada Tabel 1. Sementara itu, persyaratan bakteriologis, bahan kimia anorganik, kimia pestisida, kimia desinfektan dan sampingannya, kimia anorganik yang dapat menimbulkan keluhan pada manusia, kimia organik yang dapat menimbulkan keluhan pada manusia, radioaktivitas, dan persyaratan fisik sesuai dengan Kepmenkes No. 907/2002.

Tabel 1
Standar Air Minum SNI No. 01-3553-1996
Parameter Unit Kadar tertinggi yang diizinkan
Organoleptik

Bau (Odor) - Tidak berbau
Rasa (Taste) - Tidak berasa
Warna (Colour) Pt Co scala 5
Fisika

Kekeruhan (Turbiditas) NTU 5
Padatan terlarut (Dissolved solid) mg/L 500
Kimia

pH (Derajat Keasaman) - 6.5-8.5
Kesadahan sebagai CaCO3 mg/L 150
Bahan Organik KMnO4 mg/L 1.0
Nitrat (NO3-) mg/L 45
Nitrit (NO22-) mg/L 0.005
Amonia (NH4) mg/L 0.15
Sulfat (SO42-) mg/L 200
Klorida (Cl) mg/L 250
Fluorida (F) mg/L 1.0
Sianida (CN) mg/L 0.05
Besi (Fe) mg/L 0.3
Mangan (Mn) mg/L 0.05
Klorin bebas (Cl2) mg/L 0.1
Kontaminasi logam berat

Timah (Pb) mg/L 0.005
Tembaga (Cu) mg/L 0.5
Kadmium (Cd) mg/L 0.001
Merkuri (Hg) mg/L 0.05
Arsenik (As) - -
Mikrobiologi

Total plate count (TPC) factory per ml 1 x 102
Total plate count (TPC) market per ml 1 x 105
Bakteri coliform per 100 ml 0
Bakteri salmonella sp. per 100 ml Negatif
Bakteri clostridium perfringens per ml Negatif

Tabel 2
Persyaratan Bakteriologis Kepmenkes No. 907/2002
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Air Minum

E. Coli atau fecal coli Jumlah/100ml sampel 0
Air yang masuk sistem distribusi

E. Coli atau fecal coli Jumlah/100ml sampel 0
Total bakteri coliform Jumlah/100ml sampel 0
Air pada sistem distribusi

E. Coli atau fecal coli Jumlah/100ml sampel 0
Total bakteri coliform Jumlah/100ml sampel 0

Tabel 3
Persyaratan Kimia Bahan Anorganik Kepmenkes No. 907/2002
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Alkana terklorinasi

Karbon tetraklorida μg/L 2
Diklorometana μg/L 20
1,2-dikloroetana μg/L 30
1,1,1-trikloroetana μg/L 2000
Etana terklorinasi

Vinil klorida μg/L 5
1,1-dikloroetana μg/L 30
1,2-dikloroetana μg/L 50
Trikloroetana μg/L 70
Tetrakloroetana μg/L 40
Hidrokarbon aromatik

Benzena μg/L 10
Toluena μg/L 700
Xilena μg/L 500
Benzo[a]pirena μg/L 0.7
Benzena terklorinasi

Monoklorobenzena μg/L 300
1,2-diklorobenzena μg/L 1000
1,4-diklorobenzena μg/L 300
Triklorobenzena μg/L 20
Lain-lain

Di(2-etilheksil)adipat μg/L 80
Di(2-etilheksil)ptalat μg/L 8
Akrilamida μg/L 0.5
Epiklorohidrin
0.4
Heksaklorobutadiena μg/L 0.6
EDTA μg/L 200
Tributiltin Oksida μg/L 2

Tabel 4
Persyaratan Kimia Pestisida Kepmenkes No. 907/2002
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Alaklor μg/L 20
Aldicarb μg/L 10
Aldrin/deeldrin μg/L 0.03
Atrazina μg/L 2
Bentazona μg/L 30
Karbofuran μg/L 5
Klordan μg/L 0.2
Klorotoluran μg/L 30

Tabel 5
Persyaratan Kimia Desinfektan dan Hasil Sampingannya
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Monokloramin μg/L 3
Klorin μg/L 5
Bromat μg/L 25
Klorit μg/L 200
Klorofenol - -
2,4,6-triklorofenol μg/L 200
Formaldehida μg/L 900
Trihalometana μg/L
Bromoform μg/L 100
Dibromoklorometana μg/L 100
Bromodiklorometana μg/L 60
Kloroform μg/L 200
Asam Asetat Terklorinasi μg/L
Asam dikloroasetat μg/L 50
Asam trikloroasetat μg/L 100
Kloral Hidrat

Trikloroasetaldehida μg/L 10
Asetonitril Terhalogenasi

Dikloroasetonitril μg/L 90
Dibromoasetonitril μg/L 100
Trikloroasetonitril μg/L 1
Sianogen Klorida μg/L 70

Tabel 6
Persyaratan Kimia Anorganik yang dapat Menimbulkan Keluhan pada Manusia
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Amonia μg/L 1.5
Aluminium μg/L 0.2
Klorida μg/L 250
Tembaga μg/L 1
Kesadahan μg/L 500
Hidrogen Sulfida μg/L 0.05
Besi μg/L 0.3
Mangan μg/L 0.1
pH
6.5-8.5
Natrium μg/L 200
Sulfat μg/L 250
Total zat padat terlarut μg/L 1000
Seng μg/L 3

Tabel 7
Bahan Kimia Organik yang dapat Menimbulkan Keluhan pada Manusia
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Organik

Toluena μg/L 24-170
Xilena μg/L 20-1800
Etilbenzena μg/L 2-200
Stirena μg/L 4-2600
Monoklorobenzena μg/L 10-120
1,2-diklorobenzena μg/L 1-10
1,4-diklorobenzena μg/L 0.3-30
Triklorobenzena μg/L 5-50
Deterjen μg/L 50
Desinfektan dan Hasil Sampingannya

Klorin μg/L 600-1000
2-klorofenol μg/L 0.1-10
2,4-diklorofenol μg/L 0.3-40
2,4,6-triklorofenol μg/L 2-200

Tabel 8
Radioaktivitas yang dapat Menimbulkan Keluhan pada Manusia
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Gross alpha activity (Bq/L) 0.1
Gross beta activity (Bq/L) 1

Tabel 9
Persyaratan Fisik Kepmenkes No. 907/2002
Parameter Satuan Kadar tertinggi yang diizinkan
Warna TCU 15
Rasa dan Bau - Tidak berasa dan berbau
Temperatur °C Suhu udara ± 3°C
Kekeruhan NTU 5

Butuh informasi lebih lanjut?
Hubungi HYDRO di : 0856 93495507 / 0813 82283114
atau pin bb : 281E 8483
Identifikasi masalah air Anda melalui karakteristik berikut ini:

  •   Air mengandung zat besi
Air dengan kandungan zat besi tinggi akan menyebabkan air berwarna kuning. Pertama keluar dari kran, air nampak jernih namun setelah beberapa saat air akan berubah warna menjadi kuning. Hal ini disebabkan karena air yang berasal dari sumber air sebelum keluar dari kran berada dalam bentuk ion Fe2+, setelah keluar dari kran Fe2+ akan teroksidasi menjadi Fe3+ yang berwarna kuning.

  •   Air kuning permanen
Air kuning permanen biasanya terdapat di daerah bakau dan tanah gambut yang kaya akan kandungan senyawa organik. Berbeda dengan kuning akibat kadar besi tinggi, air kuning permanen ini sudah berwarna kuning saat pertama keluar dari kran sampai beberapa saat kemudian didiamkan akan tetap berwarna kuning.

  •   Air berkapur
Air berkapur sangat mudah dikenali, biasanya muncul bercak-bercak putih dikamar mandi Anda. Selain itu, air berkapur menyebabkan pakaian yang dicuci sangat sukar berbusa sehingga boros deterjen dan sabun mandi, pakaian hasil cucian pun terlihat kusam terutama pakaian berwarna putih.

  •   Air mengandung mangan
Biasanya kandungan mangan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kandungan zat besi. Pertama kali keluar dari kran, air yang dihasilkan nampak jernih, setelah didiamkan akan timbul bercak berwarna cokelat kehitaman

  •   Air dengan pH tinggi
Air normal memiliki kisaran nilai pH 6.5-8.5, apabila > 8.5 air bersifat basa, dan akan terasa licin di kulit. Biasanya ditambahkan suatu senyawa tertentu untuk menaikkan atau menurunkan nilai pH.
    
          Air adalah cairan yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Struktur molekul air terdiri atas 2 atom hidrogen yang terikat pada 1 atom oksigen membentuk ikatan kovalen polar Air merupakan material yang paling berlimpah di permukaan bumi. Sebagian besar permukaan bumi 71% berupa perairan dan sisanya berupa daratan. Namun besarnya perairan yang ada dipermukaan bumi belum dapat dimanfaatkan secara maksimal, hanya sekitar 0.61% yang telah termanfaatkan untuk kebutuhan hidup manusia. Tabel 1 menunjukkan jumlah air yang terdapat di permukaan bumi.

Tabel 1 Jumlah air di permukaan bumi
Air di Permukaan Bumi Km2 Persen
Air di Daratan 37800 2.8
Danau air tawar 125 0.009
Danau air tawar 125 0.009
Sungai 1.25 0.0001
Kelembaban tanah 67 0.005
Air tanah sampai kedalaman 4000m 8350 0.61
Es & gleser 29200 2.14
Air di Atmosfer 13 0.001
Air di Lautan 1320000 97.3
Total Air Dunia 1360000 100
    
          Air seperti halnya energi merupakan kebutuhan esensial, hampir semua bidang kehidupan manusia membutuhkan air diantaranya bidang pertanian, peternakan, industri dan lainnya. Kebutuhan manusia akan air dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat pada 

Tabel 2 Penggunaan air untuk kegiatan manusia sehari-hari
Penggunaan Jumlah (L/orang/hari)
Minum 0.6
Memasak 1.4
Cuci alat dapur 13.0
Buang air besar 6.0
Mandi 36.0
Cuci pakaian 11.0
Menyiram tanaman 4.0
Wudhu/Ibadah 17.0
    
        Jumlah air dipermukaan bumi secara keseluruhan relatif tetap karena air mengalami siklus hidrologi, air dari bumi akan menuju atmosfer dan kembali lagi ke bumi. Siklus hidrologi terjadi akibat pengaruh sinar matahari, energi panas matahari menyebabkan penguapan air sungai, danau, rawa, dan laut, proses tersebut dinamakan evaporasi. Selain itu, penguapan terjadi pula pada daun-daun dan bagian lain dari tanaman, prosesnya disebut transpirasi. Proses-proses tersebut menyebabkan terbentuknya uap air, naik ke atas ke atmosfer bumi, ditempat yang lebih tinggi suhu udara semakin rendah sehingga uap air akan berkondensasi menjadi air kembali dan turun ke bumi sebagai air hujan (Gambar 1). Di tempat yang sangat tinggi seperti daerah beriklim dingin uap air dapat langsung membeku membentuk kristal-kristal es, proses ini dinamakan sublimasi. Pada proses sublimasi uap air berubah menjadi salju.
Siklus Hidrologi Air
Gambar 1 Siklus hidrologi air
    Pada umumnya air digolongkan menjadi 4 jenis yaitu, air murni, air bersih, air lunak, dan air keras. Air murni merupakan senyawa tunggal dan bukan campuran. Para ahli menyatakan bahwa air murni merupakan senyawa yang terdiri atas satu jenis molekul H2O, kandungan mineralnya sedikit sekali bahkan hampir tidak ada. Air murni tidak sama dengan air minum karena air minum mengandung garam-garam mineral. Keberadaan air murni di alam hampir tidak ada karena banyaknya pengaruh lingkungan dan alam itu sendiri. Air bersih belum tentu air murni tetapi dapat digunakan dengan aman tanpa membahayakan kesehatan. Air bersih merupakan air yang secara fisik, kimia, dan biologi layak digunakan bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Air lunak merupakan air dengan kadar mineral yang rendah. Air keras atau lebih dikenal dengan istilah air sadah merupakan air yang memiliki kandungan mineral tinggi, pada umumnya berupa ion kalsium dan ion magnesium dalam bentuk garam karbonat. Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral yang dapat menyumbat saluran pipa dan kran, air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, selain itu air sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan, biasanya air sadah ditandai dengan munculnya bercak-barcak berwarna putih pada kran ataupun pada bak penampungan air di kamar mandi.
    Sumber-sumber air yang berada dipermukaan bumi terdiri atas air permukaan dan air tanah. Air permukaan merupakan semua air yang terdapat dipermukaan tanah dan dapat dilihat oleh mata kita, contohnya air sungai, danau, laut, dan rawa. Air permukaan berasal dari air hujan yang meresap dan membentuk mata air di gunung atau hutan, kemudian mengalir ke permukaan bumi dan membentuk sungai atau mengumpul ditempat cekung membentuk danau dan rawa. Biasanya air permukaan lebih kotor dibandingkan dengan air tanah karena kotoran, lumpur, ataupun pasir dapat ikut terbawa. Air permukaan dapat dibedakan menjadi perairan darat dan perairan laut. Perairan darat merupakan air permukaan yang berada diatas daratan seperti danau, rawa, dan sungai, sedangkan perairan laut merupakan air permukaan yang berada di lautan luas contonya air laut. Air tanah merupakan air terdapat dalam lapisan tanah atau batuan dibawah permukaan tanah, air tanah lebih jernih dibandingkan dengan air permukaan karena mengalami penyaringan oleh lapisan tanah, kandungan mineral air tanah cukup tinggi seperti Na, Ca, Mg, dan Fe. Air tanah terdiri atas air tanah preatis dan air tanah artesis. Air tanah preatis letaknya tidak jauh dari permukaan tanah serta berada di atas lapisan kedap air, sedangkan air tanah artesis letaknya sangat jauh di dalam tanah serta berada diantara dua lapisan kedap udara.
    Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaannya melebihi kapasitasnya untuk diperbaharui. Sumber air yang tercemar dapat menimbulkan berbagai permasalahan terutama masalah-masalah kesehatan bahkan negara dapat mengalami kerugian hingga 45 trilyun akibat pencemaran air. Sebuah laporan PBB mengenai ketersediaan air bersih dunia yang diluncurkan Third World Water Forum di Jepang menyebutkan bahwa air merupakan bagian terbesar di bumi, namun hanya 2.53% merupakan air bersih. Sebanyak 2/3 dari air bersih berupa sungai es (glaser) dan salju permanen yang sulit dimanfaatkan. Tidak semua air dapat langsung dimanfaatkan oleh manusia. Air laut harus diolah terlebih dahulu sebelum digunakan, air yang kotor perlu dijernihkan sebelum digunakan, tujuannya agar air yang dikonsumsi manusia tidak mengandung bahan-bahan berbahaya. Air kotor merupakan sumber berbagai penyakit sebab air kotor dapat dipastikan membawa bibit penyakit dari berbagai sumber diantaranya kotoran manusia dan hewan, sampah, tanah, lumpur, tanaman, udara, limbah pabrik, dan sebagainya. Selain membawa bibit penyakit, air juga mengandung bahan-bahan beracun yang akibatnya baru muncul setelah sekian tahun mengkonsumsi air tersebut. Kandungan bahan beracun kadang bisa dilihat dari penampilan fisik air. Air yang berwarna kekuningan kemungkinan banyak mengandung besi. Apabila dikonsumsi secara terus-menerus dalam waktu yang lama akan merusak ginjal dan gigi. Selain besi, terdapat juga mangan yang berbahaya bagi kesehatan karena dapat merusak ginjal dan bersifat neurotoksik. Keberadaan mangan ditandai dengan endapan dalam air yang berwarna cokelat kehitaman. Bau busuk yang sering tercium dari air menandakan adanya pelapukan bahan-bahan organik oleh mikroorganisme di air. Masalah lain yang sering ditemui yaitu air berasa, air yang asin ataupun asam berarti air tersebut memiliki kualitas yang rendah. Secara kimia air harus memiliki pH netral (pH=7), air berasa asam apabila nilai pH air lebih rendah dari 7 dan akan berasa pahit apabila pH air lebih besar dari 7.
    Apabila kondisi air Anda memiliki permasalahan seperti diatas, berarti air baku Anda perlu pengolahan terlebih dahulu sebelum digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Anda tidak perlu khawatir akan hal itu karena kami siap membantu mengatasi berbagai permasalahan kondisi air baku di rumah Anda. Produk-produk kami HYDRO water filter telah terbukti mampu mengatasi masalah bau, rasa, besi, mangan, dll sehingga dihasilkan air yang bersih dan aman digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Butuh informasi lebih lanjut?
Hubungi HYDRO di : 0856 93495507 / 0813 82283114
atau pin bb : 281E 8483
Peraturan Menteri Kesehatan RI No 492/Menkes/Per/IV/2010 tanggal 9 April 2010
PARAMETER WAJIB
Jenis Parameter Satuan Kadar Maksimum Yang Diperbolehkan
Parameter yang Berhubungan dengan Kesehatan

a. Parameter Mikrobiologi

Escherichia coli Jumlah per 100 ml sampel 0
Total Bakteri Coliform Jumlah per 100 ml sampel 0
b. Kimia Anorganik

Arsen mg/l 0,01
Fluorida mg/l 1,5
Total Kromium mg/l 0,05
Kadmium mg/l 0,003
Nitrit, sebagai NO2- mg/l 3
Nitrat, sebagai NO3- mg/l 50
Sianida mg/l 0,07
Selenium mg/l 0,01
Parameter yang Tidak Langsung Berhubungan dengan Kesehatan

a. Parameter Fisik

Bau
Tidak Berbau
Warna TCU 15
Total Zat Padat Terlarut (TDS) mg/l 500
Kekeruhan NTU 5
Rasa
Tidak Berasa
Suhu 0ºC Suhu Udara± 3ºC
a. Parameter Kimia

Aluminium mg/l 0,2
Besi mg/l 0,3
Kesadahan mg/l 500
Khlorida mg/l 250
Mangan mg/l 0,4
pH
6,5-8,5
Seng mg/l 3
Sulfat mg/l 250
Tembaga mg/l 2
Amonia mg/l 1,5
PARAMETER TAMBAHAN
Jenis Parameter Satuan Kadar Maksimum Yang Diperbolehkan
KIMIA

a. Bahan Anorganik

Air Raksa mg/l 0,001
Antimon mg/l 0,02
Barium mg/l 0,7
Boron mg/l 0,5
Molybdenum mg/l 0,07
Nikel mg/l 0,07
Sodium mg/l 200
Timbal mg/l 0,01
Uranium mg/l 0,015
b. Bahan Organik mg/l 1,5
Zat Organik (KMnO4) mg/l 10
Deterjen mg/l 0,05
Chlorinated Alkanes

Carbon Tetrachloride mg/l 0,004
Dichloromethane mg/l 0,02
1,2-Dichloroethane mg/l 0,05
Chlorinated Ethenes

1,2-Dichloroethene mg/l 0,05
Trichloroethene mg/l 0,02
Tetrachloroethene mg/l 0,04
Aromatic Hydrocarbons

Benzene mg/l 0,01
Toluene mg/l 0,7
Xylenes mg/l 0,5
Ethylbenzene mg/l 0,3
Styrene mg/l 0,02
Chlorinated Benzenes

1,2-Dichlorobenzene (1,2-DCB) mg/l 1
1,4-Dichlorobenzene (1,4-DCB) mg/l 0,3
Lain-lain

Di(2-ethylhexyl)phthalate mg/l 0,008
Acrylamide mg/l 0,0005
Epichlorohydrin mg/l 0,0004
Hexachlorobutadiene mg/l 0,0006
Ethylenediaminetetraaceticacid (EDTA) mg/l 0,6
Nitrilotriacetic acid (NTA) mg/l 0,2
Pestisida

Alachlor mg/l 0,02
Aldicarb mg/l 0,01
Aldrin dan Dieldrin mg/l 0,00003
Atrazine mg/l 0,002
Carbofuran mg/l 0,007
Chlordane mg/l 0,0002
Chlorotoluron mg/l 0,03
DDT mg/l 0,001
1,2-Dibromo-3-chloropropane (DBCP) mg/l 0,001
2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) mg/l 0,03
1,2-Dichloropropane mg/l 0,04
Isoproturon mg/l 0,009
Lindane mg/l 0,002
MCPA mg/l 0,002
Methoxychlor mg/l 0,02
Metolachlor mg/l 0,01
Molinate mg/l 0,006
Pendimethalin mg/l 0,02
Pentachlorophenol (PCP) mg/l 0,009
Permethrin mg/l 0,3
Simazine mg/l 0,002
Trifluralin mg/l 0,02
Chlorophenoxy Herbicides selain 2,4-D dan MCPA

2,4-DB mg/l 0,09
Dichlorprop mg/l 0,1
Fenoprop mg/l 0,009
Mecoprop mg/l 0,001
2,4,5-Trichlorophenoxyacetic acid mg/l 0,009
Desinfektan dan Hasil Sampingannya

Desinfektan

Chlorine mg/l 5
Hasil Sampingan

Bromate mg/l 0,01
Chlorate mg/l 0,7
Chlorite mg/l 0,7
Chlorophenols

2,4,6-Trichlorophenol (2,4,6-TCP) mg/l 0,2
Bromoform mg/l 0,1
Dibromochloromethane (DBCM) mg/l 0,1
Bromodichloromethane (BDCM) mg/l 0,06
Chloroform mg/l 0,3
Chlorinated Acetic Acids

Dichloroacetic acid mg/l 0,05
Trichloroacetic acid mg/l 0,02
Chloral Hydrate

Halogenated Acetonitrilies

Dichloroacetonitrile mg/l 0,02
Dibromoacetonitrile mg/l 0,07
Cyanogen Chloride, sebagai CN mg/l 0,07
RADIOAKTIFITAS

Gross Alpha Activity Bq/l 0.1
Gross Beta Activity Bq/l 1

Butuh informasi lebih lanjut?
Hubungi HYDRO di : 0856 93495507 / 0813 82283114
atau pin bb : 281E 8483

    Air bersih dan sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Lebih dari 1 milliar manusia di seluruh dunia kehilangan akses terhadap sumber air bersih. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sekitar 1.6 juta anak di seluruh dunia meninggal akibat tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan sanitasi yang sehat. Dampak tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut langsung dirasakan oleh jutaan keluarga terutama anak-anak dan balita sebagai kelompok usia rentan. Jika target penyediaan air bersih dan sanitasi tidak segera diatasi dunia diperkirakan mengalami krisis meluas. Krisis akan lebih terasa diwilayah perkotaan karena pertumbuhan penduduk yang cepat sehingga memunculkan tekanan pelayanan kesehatan bagi warga kelas bawah.
     Pada tahun 2000, dunia berjanji untuk menurunkan separuh dari sejumlah orang yang tidak memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi dasar. Laporan berjudul ”MDG Drinking Weter and Sanitation Target-The Urban and Rural Challengeof the Decade” menyebutkan butuh upaya 2 kali lipat dari yang saat ini dilakukan untuk memenuhi target air minum dan sanitasi dasar diseluruh dunia melalui Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) tahun 2015. Dalam menacapai target tersebut dibutuhkan komitmen kuat para pemimpin negara, pembuat kebijakan, lambaga pelatihan, lembaga pendanaan, serta lembaga perencanaan dan pembangunan. Merupakan tragedi jika dunia tidak mampu mencapai target MDGs dalam bidang air minum dan sanitasi. Air minum yang aman dan sanitasi jelas sangat penting bagi kesehatan yang risikonya kini sering diabaikan. Dengan menangani akar penyebab penyakit seperti air dan sanitasi dapat mengurangi 24% permasalahan penyakit global akibat lingkungan.
    Seperti yang telah kita sadari bahwa air merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Bahkan dapat dikatakan sebagai kebutuhan primer sebab manusia tidak bisa hidup tanpa air. Air juga bisa dikatakan sumber daya multiguna. Kegunaanya mulai dari pengaturan ekosistem, irigasi, pembangkit tenaga listrik, sampai pada pemenuhan hajat hidup manusia seperti mandi, memasak, minum, dan sebagainya. Menurut Dr Elvina Karyadi, MSc dalam tubuh seorang pria dengan berat rata-rata 70 kg memiliki kandungan air 45L, sekitar 30L terdapat dalam sel tubuh manusia dan 15 L sisanya berada di luar sel. Air yang berada diluar sel adalah cairan otak, cairan mata dan hidung, serta cairan dalam saluran pencernaan. Menurut sumber lain kandungan air dalam otak 83%, ginjal 82%, jantung 79%, paru-paru 80%, tulang 22% dan darah 90%. Bila kandungan air dalam masing-masing organ tersebut tetap dipertahankan sesuai kebutuhan, maka organ tersebut akan tetap sehat. Sebaliknya bila menurun, fungsinya juga akan menurun dan lebih mudah terganggu oleh bakteri, virus, dan lain-lain.
    Ternyata air yang serba guna itu bisa juga membawa bencana bagi manusia, misalnya banjir dan penyakit. Kuantitas air yang berlebihan jadi bencana banjir, sementara kualitas air yang buruk dapat menimbulkan penyakit. Air yang berhubungan dengan masalah banjir adalah urusan lembaga penanggulangan banjir, tetapi yang berhubungan dengan kesehatan adalah urusan kita masing-masing. Kita harus mengetahui masalah air bersih yang layak dipakai dan dikonsumsi oleh kita. Seyogyanya juga kita mengetahui bagaimana caranya kita memperlakukan air, memanfaatkan air, dan mengelola air bersih untuk kelangsungan hidup kita. Perlu diingat bahwa air sangat menentukan kehidupan kita.
     Menurut penelitian lembaga riset trombosit di London Inggris, jika orang selalu mandi dengan air dingin, peredaran darahnya akan membaik sehingga terasa lebih bugar. Mandi dengan air dingin akan meningkatkan produksi sel darah putih serta meningkatkan kemampuan seseorang terhadap serangan virus. Bahkan, mandi dengan air dingin di waktu pagi dapat meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria dan hormon estrogen pada wanita, dengan demikian kesuburan akan meningkat, jaringan kulit membaik, kuku lebih sehat dan kuat serta tidak mudah retak. Air juga diyakini dapat menyembuhkan penyakit jantung, rematik, kerusakan kulit, penyakit saluran napas, usus, dan lainnya.
    Air sangat erat hubungannya dengan manusia, air memiliki peranan yang besar dalam kesehatan manusia. Beberapa fungsi air yang berguna untuk tubuh adalah sebagai bagian dari sistem yang mengangkut nurisi dan gizi sebagai hasil metablisme dari makanan yang dikonsumsi. Air juga berfungsi mengangkut sisa-sisa metabolisme dalam tubuh, membantu memecahkan komponen dalam tubuh, menjaga keseimbangan suhu tubuh karena proses oksidasi yang menghasilkan panas, menjaga elastisitas kulit, dan membantu proses bernafas dengan melembabkan udara ketika dihembuskan. Walaupun kita tidak beraktivitas tinggi, air yang dikeluarkan tubuh terhitung banyak. Salah satu kesalahan yang sudah menjadi kebiasaan adalah mengkonsumsi air hanya ketika haus. Hal ini berakibat fatal karena asupan air hanya sedikit. Tubuh membutuhkan sedikitnya satu liter air lebih banyak dari rasa haus. Air yang dikonsumsi sehari-hari harus memiliki syarat kesehatan agar tidak menimbulkan penyakit Penyebab penyakit yang ada dapat dikelompokan menjadi 4 bagian:
1 Penyebab tak hidup yang menyebabkan penyakit tidak menular
Penyakit tidak menular yang disebabkan air banyak sekali. Penyebabnya dapat berupa zat-zat kimia seperti wabah yang disebabkan air raksa, cadmium, dan cobalt.
2 Penyebab hidup yang menyebabkan penyakit menular
Penyakit menular lewat air dapat disebabkan oleh
a)organisme patogen seperti bakteri, vibrio cholera penyebab penyakit kolera, ,salmonella thypi penyebab penyakit demam tipoid, sigella penyebab penyakit disentri basilus, salmonella parathypi penyebab penyakit demam parathypi, protozoa, virus penyebab penyakit hepetitis infeksiosa.
b)organisme nonpatogen seperti aetenomi cetes menyebabkan rasa dan bau yang tidak diharapkan, algae dalam jumlah besar dapat menghambat pekerjaan pada sistem saringan, bakteri coli dan coliform sebagai indikasi apakah air tercemar oleh tinja manusia atau kotoran hewan.
3 Air sebagai sarang insekta penyebab penyakit
Air sebagai sarang insekta yang menyebarkan penyakit kepada masyarakat. Insekta demikian disebut sebagai vektor penyakit. Vektor yang bersarang di air dan terpenting di Indonesia pada umumnya nyamuk seperti nyamuk aedes aegypti dan anopheles spp.
4 Air sebagai media penularan penyakit
Pola mekanisme penularan penyakit infeksi yang berkaitan dengan air minum yaitu, sumber-air-manusia atau sumber-air-makanan,susu,sayuran-manusia.
Mengingat air berfungsi sebagai media penularan penyakit, maka untuk mengurangi timbulnya penyakit atau menurunkan angka kematian usahanya adalah meningkatkan penggunaan air minum yang memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas.

Butuh informasi lebih lanjut?
Hubungi HYDRO di : 0856 93495507 / 0813 82283114
atau pin bb : 281E 8483

Filter Air HYDRO